Uncategorized

Pembunuhan Pelajar Asli Papua oleh OPM Dianggap Pelanggaran HAM Kelompok Rentan

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) 2016-2020 Andrea H Poeloengan menyoroti pembunuhan pelajar kelas X SMAN 1 Ilaga, Puncak, Papua, Ali Mom, oleh kelompok teroris Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pelajar asli Papua itu dituduh sebagai mata-mata.

“Ini kasus penting. Ini bukan tindak pidana biasa. Ini merupakan juga pelanggaran HAM (hak asasi manusia) terhadap kelompok rentan, harus jadi prioritas bagi Polri dibantu TNI dan aparat pemerintah lainnya,” kata Andrea dalam keterangan tertulis, Minggu, 30 Mei 2021.

Menurut dia, Ali Mom termasuk kelompok rentan sebagaimana diatur Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM. Kelompok ini wajib diberikan perlindungan HAM khusus. Sebagai anak, Ali Mom juga wajib dihargai kehidupannya sebagaimana diatur UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

“Ini lagi-lagi fakta, bahwa OPM entah dicap sebagai kelompok separatis, kelompok kriminal bersenjata, kelompok teroris, ataupun keseluruhan sebagai kelompok teroris separatis kriminal bersenjata, mereka pada akhirnya adalah pelanggar HAM sekaligus pemicu pelanggaran HAM. Harus segera dibasmi!” tegas dia.

Bagi Andrea, dalam konsep-konsep konflik maupun perdamaian, meredam kekerasan menjadi alat yang penting pada dinamika kekerasan yang tinggi. Namun, pendekatan halus akan sulit dijalankan jika kekerasan masih terus berlangsung tanpa ada kepastian perdamaian.

Dia menjelaskan jika TNI/Polri mengambil tindakan tegas, hal itu tidak bisa dipandang sebagai kekerasan yang liar. Sepanjang diatur kewenangannya oleh hukum positif, tindakan tegas aparat sah sehingga wajib didukung.

OPM, kata dia, sudah jelas menggunakan cara-cara tidak sah dalam menghilangkan nyawa manusia. Mereka dianggap bukan kelompok yang berkewenangan berdasar hukum dan HAM dan memiliki peralatan dan persenjataan yang tidak sah.

“Jangan jadi kebalik-balik! Kesalahan oknum memang bisa terjadi pada aparat. Tetapi kesalahan tersistematis, masif, terstruktur, dengan niat, terencana, dengan tujuan yang illegal dan melawan HAM, adalah yang dilakukan para OPM selama ini!” tekan dia.

Ali Mom dibantai hingga meninggal pada Kamis, 15 April 2021. Peristiwa ini berawal dari telepon seluler milik Ali yang berdering. Ia mengecek layar ponselnya dan hanya terlihat nomor, tanpa nama. Nomor yang masuk tidak ada dalam daftar kontak milik remaja berusia 15 tahun ini.

Tidak curiga, Ali mengangkat telepon itu. Dari ujung telepon, terdengar suara seorang pria. Belakangan, pria itu diketahui sebagai salah satu anggota kelompok teroris OPM pimpinan Lekagak Telenggen. Ia meminta tolong membelikan rokok dan pinang.

Tanpa basa-basi, Ali mengiyakan. Sebenarnya Ali biasa melakukan hal ini. Ia menerima titipan dari siapa pun. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mencari uang tambahan. Warga Kampung Ilambet ini lalu menggeber sepeda motor Yamaha Jupiter MX, walapun malam sudah tiba.

Ali diminta mengantarkan titipan rokok ke Kampung Uloni, Distrik Ilaga. Setibanya di Uloni, Ali diadang kelompok kelompok teroris OPM pimpinan Lekagak Telenggen. Ali dua kali ditembak serta dibacok. Kelompok teroris itu juga membakar sepeda motor korban.

“Seketika korban tewas di TKP (tempat kejadian perkara),” kata Kapolda Papua Inspektur Jenderal (Irjen) Mathius D Fakhiri, Jumat, 16 April 2021.

Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM Sebby Sambom mengakui membunuh pelajar SMA itu. Kelompok itu tahu korban ialah pelajar. Namun, OPM ini tetap membunuh korban karena dianggap sebagai provokator dan intelijen atau mata-mata.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close